Umpama Di Banyak Desa Terdapat Pesantren Rakyat

Oleh: Prof. Dr. K.H. Imam Suprayogo (Guru Besar UIN MALIKI Malang)

Di antara hal penting dalam  pemberdayaan masyarakat di pedesaan adalah memberikan bimbingan dan contoh-contoh nyata  secara tepat dan sungguh-sungguh.  Bahwa sebenarnya, masyarakat di pedesaan memiliki berbagai potensi yang  sangat mungkin dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Akan tetapi berbagai potensi itu ternyata banyak yang belum dimanfaatkan. Potensi yang kadang sedemikian   besar itu  akhirnya tidak memberi keuntungan apa-apa.

Suatu contoh sederhana, bahwa di banyak tempat, terutama di kalangan masyarakat muslim, terdapat masjid, mushalla, dan jenis tempat ibadah lainya.  Pembangunan tempat ibadah itu tidak mudah dan juga tidak murah, lagi ula mereka harus berswadaya. Di beberapa tempat,  masjid  berukuran besar, sehingga biaya membangun dan perawatannya tidak murah. Akan tetapi pemanfaatnnya ternyata tidak maksimal.  Banyak tempat ibadah itu  hanya digunakan pada waktu shalat jum’at, sedangkan untuk shalat lainnya, mereka lebih suka di rumah atau di tempat lain. Masjid yang dibangun dengan berbiaya mahal itu  belum  dimanfaatkan maksimal, apalagi pada waktu subuh hanya didatangi oleh beberapa orang saja.

Umpama masjid itu tidak saja digunakan untuk memenuhi kebutuhan ritual yang terbatas itu, akan tetapi juga digunakan untuk memberi layanan yang lebih luas, maka manfaat tempat ibadah itu akan menjadi lebih sempurna. Misalnya, masjid digunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan, kunsultasi keluarga, pendidikan, memberikan layanan terhadap berbagai kebutuhan  informasi, dan lain-lain, maka  kehadiran masjid akan semakin memberi manfaat. Namun sementara ini,  fungsi masjid  masih terbatas dan kadang  bahkan hanya sebatas sebagai kebanggan belaka.

Tidak saja pemanfaatan tempat ibadah, dalam kehidupan ekonomi juga sama. Banyak tanah kosong yang kadang sedemikian luas, tetapi juga  tidak ditanami, sehingga tidak memberi manfaat  apa-apa.  Padahal di sekitar itu banyak tenaga yang menganggur. Mereka sebenarnya juga mengetahui, bahwa umpama tanah dimaksud ditanami tanaman sederhana dan tidak memerlukan perawatan yang berat, misalnya ditanami kayu  mahoni atau sengon, maka hanya dalam waktu beberapa tahun saja, hasilnya akan luar biasa besarnya. Akan tetapi oleh karena tidak ada yang membimbing, mengarahkan, dan memberi contoh, maka semua potensi itu dibiarkan percuma. Sekalipun ada peluang atau potensi,  mereka tidak memanfaatkan, sehingga  sekalipun berada di tanah luas dan subur, tetapi tidak akan memperoleh apa-apa,   atau tampak kaya tetapi sebenarnya  miskin.

Demikian pula,  umpama masyarakat pedesaan itu dibimbing dan diarahkan untuk berternak, misalnya  berternak kambing, sapi, kerbau, ayam, dan sejenisnya, maka hasilnya akan mencukupi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi lagi-lagi aneh, mereka memiliki tanah luas, mampu bertani dan berternak, tetapi kebutuhan hidup sehari-hari seperti beras, kedelai, buah-buahan, daging, dan bahkan garam saja ternyata harus membeli atau import ke luar negeri. Umpama bangsa ini oleh karena belum menguasai  teknologi, sehingga harus mengimport mobil, pesawat terbang, dan berbagai kelengkapan hidup modern lainnya, kiranya tidak mengapa. Akan tetapi manakala  kebutuhan yang bisa dihasilkan sendiri saja, sebagaimana dikemukakan di muka, ternyata  harus membeli ke luar negeri, maka pertanyaannya,   apa sebenarnya yang akan diandalkan oleh bangsa ini.

Kiranya perlu diyakini, seyakin-yakinnya,  bahwa bangsa ini sebenarnya bukan bangsa yang lembek, bukan bangsa yang bodoh, bukan bangsa pemalas, bukan bangsa yang tidak punya cita-cita, bukan bangsa yang tidak ingin berprestasi, dan seterusnya. Akan tetapi  rupanya, ——-terutama yang berada di pedesaan, sangat memerlukan adanya bimbingan, arahan, contoh yang bisa ditiru. Peran itu sebenarnya sudah ada, misalnya adalah para pemimpin, baik yang bersifat formal maupun yang informal. Akan tetapi peran itu pada kenyataannya belum berhasil  dijalankan secara maksimal. Bahkan keberadaan pemimpin dimaksud kadangkala justru menjadi pesaing yang tidak seimbang.

Selanjutnya, apa yang telah dilakukan oleh pesantren rakyat di Desa Sumberpucung, Kabupaten Malang, selama ini sudah tampak sekali hasilnya. Lembaga dimaksud  kiranya tepat dikembangkan di banyak desa di Indonesia. Kemiskinan dan ketertinggalan masih banyak dialami oleh masyarakat desa. Oleh karena itu,  pemberdayaan melalui bimbingan, arahan, dan contoh bagi masyarakat yang berada di pedesaan adalah sangat diperlukan dan strategis.  Pesantren rakyat, sekalipun banyak kesamaan dengan pesantren konvensional pada umumnya, tetapi memiliki ciri khas yang amat tepat digunakan sebagai alternatif pendekatan untuk pemberdayaan masyarakat pedesaan dimaksud.

Pesantren rakyat selain memberikan pelajaran tentang ilmu  keagamaan kepada para santri, juga memberikan bimbingan kepada masyarakat pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam memberikan bimbingan itu, pesantren rakyat yang diasuh oleh kyai dan dibantu para asatidznya,  memiliki jargon atau semboyan yang amat  menarik, yaitu : “belajar bersama, mengajar bersama, dan memberi gelar bersama”. Melalui jargon ini, maka siapa saja yang memiliki ilmu dan ketrampilan lebih, ———-atas bimbingan dan koordinasi pesantren rakyat dimaksud, supaya diberikan kepada mereka yang bekekurangan.

Melalui konsep pesantren rakyat  tersebut, mereka yang memiliki ilmu dan pengalaman bertani sukses,   diminta menjadi guru, yaitu   mengajarkan ilmu dan pengalamannya itu kepada siapa  saja yang ingin mengembangkan pertanian. Demikian pula, mereka yang ingin berternak, agar belajar kepada mereka yang telah sukses berternak di desa itu, dan seterusnya. Bahkan melalui konsep pesantren rakyat ini,  juga akan mendekatkan  antara mereka yang kaya dengan mereka yang miskin. Mereka yang disebut kaya diharapkan secara ikhlas  bekerjasama dengan yang miskin, yaitu  dengan jalan menyediakan modalnya, dan sementara itu, mereka yang miskin menjalankan usahanya dengan sistem bagi hasil.

Sedangkan untuk mempererat hubungan atau sillaturrakhiem antar warga kampung, maka di tempat-tempat tertentu, pada waktu tertentu pula secara rutin, diselenggarakan dialog, berbincang-bincang, dan atau bahkan berdebat. Kegiatan ini di pesantren rakyat  Sumber Pucung disebut “jagongan maton”, atau  kegiatan untuk membicarakan sesuatu yang terarah dan berguna.    Selain itu,   di pesantren rakyat juga dikembangkan kegiatan seni dan olah raga yang digemari oleh masyarakat setempat, mulai dari  kesenian Jawa maupun religious. Pesantren rakyat Sumber Pucung memiliki  group kesenian Jawa, tebang Jedor, shalawatan, dan lain-lain.  Kegiatan penting lainnya, pada waktu-waktu tertentu para santri dan masyarakat diajak berdzikir bersama, dan bahkan juga shalat malam.

Dengan demikian, pesantren  rakyat  atas bimbingan kyai dan para asatidznya, menjadikan  masyarakat mendapatkan bimbingan seutuhnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.  Masyarakat Desa Sumber Pucung, di mana pesantren itu berada, ternyata  berhasil berubah, yaitu yang dahulunya menyukai kegiatan berjudi, minuman keras, tempat para preman, pencopet, dan bahkan tempat prostitusi,  sekarang ini sudah bangga  jika disebut sebagai masyarakat pesantren rakyat. Di antara mereka bisa saling belajar dan mengajar, saling bertemu, dan bersama-sama menjalin hubungan kekeluargaan secara erat. Kehidupan modern yang semakin menjauhkan antar orang atau antar sesama, sehingga kehidupan masyarakat menjadi tidak saling mengenal, dan semakin transaksional,  ———dengan kehadiran pesantren rakyat ini, mereka itu  berhasil  didekatkan kembali.

Kiranya para mahasiswa atau juga sarjana yang belum memilikki pekerjaan, tetapi  berjiwa pejuang dan pengabdi kepada masyarakat yang tulus, maka bisa dipadukan  atau disinergikan dengan para ustadz pengasuh pesantren rakyat.  Pendidikan yang dikonsep mampu menjangkau pada seluruh kehidupan rakyat ini bisa dijalankan dengan murah, mudah, dan sederhana.  Jika di lembaga pendidikan formal selama ini banyak dikeluhkan, yaitu bahwa para lulusannya tidak siap menghadapi tantangan, maka melalui pendidikan pesantren rakyat   sehari-hari secara bersama-sama telah diajak menjawab tantangan, melalui belajar, mengajar,   dan bekerja bersama-sama untuk mengatasi persoalan hidup. Kehadiran pesantren rakyat  dimaksudkan  adalah untuk memberikan bimbingan dan memberdayakan masyarakat, dari rakyat,  oleh rakyat, dan untuk rakyat. Wallahu a’lam

 

https://www.facebook.com/notes/prof-imam-suprayogo/umpama-di-banyak-desa-terdapat-pesantren-rakyat/35432775143322311265600_847311178638009_7277850942492051292_n

Share to Communicate