KOMUNITAS REMBUG JAGAT LOUNCHING DI PESANTREN RAKYAT

Tidak lanjut dari diskui tentang FDS di Jagong Maton Coffee Kota Malang yang dihadiri para pakar yang ada di Malang Raya, seperti Doktor Muhammad Mahpur, Ilhamuddin Nukman dosen Universitas Brawijaya, Gus Din Putra pendiri UNISMA, Pimred Inspirasi Pendidikan dan komunitas-komunitas lain.

Karena diskusi di Jagong Maton Coffee tidak tuntas maka 16 peserta ya g hadir ingin melanjutkan ke rumah salah satu panelis yaitu Abdullah Sam, tujuanya adalah pendalaman tentang FDS atau Permen Tentang Tambahan Jam Belajar Menjadi 8 jam dalam satu hari selama 5 hari kerja.
Setelah diskusi panjang hingga sepakat agar Permen Tentang FDS tidak di berlakukan, karena banyak cacat, diantaranya adalah akan mengganggu suasana hati Penggerak Madin dan TPQ, kemudian anak akan jauh dari lingkungan, keluarga dan alam sekitar, dan membunuh bibit bibit kepahlawanan yang ada di masyarakat.
Setelah keresahan demi keresahan tersampaikan, maka ada usul dari Azizah Zam-Zam mengusulkan adanya perkumpulan yang asalnya adalah Bernama Rembug Mikir, setelah di diskusikan berubah menjadi Aliansi Rembug Jagad, dan akhirnya di sepakati menjadi KOMUNITAS REMBUG JAGAD.
kemudian Kang Dullah Tuan Rumah sekaligus Pengasuh Pesantren Rakyat langsung tilpon temanya yang menjadi notaris, dan langsung di respon bulan september akan di kasih geratis.
Tujuanya adalah menjadi wadah diskusi dan bergerak untuk kemaslahatan bersama.
Pada saat itu juga Selasa, 22 Agustus 2017 di Pesantren Rakyat dilakukan LOUNCHING Komunitas Rembug Jagad. Pukul 23.30 Malam Dengan di bacakan alfatihah maka resmi sudah Komunitas ini.
Adapun nama nama anggota nya adalah Inayatus Saadah dari Kromengan, Azizah Zam-Zam dari Pagak, Maulida Ilham Azizah dari Pati Jawa Tengah, M. Athoilah dari Gondanglegi, Firza Syaiba Asna dari Karangkates, Dimas Addam dari Tajinan, M. Hanif Ubaidillah Banyuwangi, Asad Malik Sa’duddin dari Kepanjen, Agung Yuda Purnama dari Palembang, Tri Wahyu Herlambang dari Pepen, Gilang Arisangky Blitar, Naila Shofia Dari Magetan, Burhanuddin dari sambigede dan Ilhal Priambodo Kusumo asli Tuban.
Dan setelah di bentuk struktur Direktur Azizah Zam-Zam, Sekretaris Inayah Saadah dan Firza Syaiba Asna. Harapnya ada pertemuan rutin dan penguatan ekonomi masing-masing anggota sebagai modal untuk bergerak ke arah yang lain. abd

Share to Communicate

17 Agustus 2017 Deklarasi Pesantren Rakyat An Nur 7 Dumpul Sidorejo

20953014_1427023840745892_9170162001324146281_n

20841765_1427023874079222_9177353968863523840_n

Semua adalah izin dari Allah SWT, saat Kyai Sableng Abdullah Sam ngaji di Balaidesa Sidorejo Kemudian Sekaligus Pulangnya Langsung Menghadiri Deklarasi Pesantren Rakyat An Nur 7 di Dompol Sidorejo.
Deklarasi Ini di hadiri Ketua Posdaya Al-Amin Sidorejo Ustad Yusuf Charson yang telah lama kenal Ust. Abdullah Sam Karena sama-sama aktif di Pos Pemberdayaan Keluarga yang Sinergi dengan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Yayasan Damandiri Jakarta.
Kemudian Pesantren Rakyat An Nur 7 yang di asuh oleh Kyai Muda alumni An Nur 2 Bululawang ini yang sudah memiliki santri mukim 4 di dukung oleh Dinas Sosial melalui P Agus Sucipto Koordinator Pendamping PKH Jabung, Sekaligus Di Hadiri Koordinator Pendamping PKH Gondanglegi Bapak Agung Zainun Saputro.

Alhamdulillah Ust. Ali Fatah alumni PPAI Ataqwa Begawan Pandan Sari Lor Jabung Juga siap membantu ngajar Kitab Ta’lim setiap hari kamis malam jumat bakda maghrib di Pesantren Rakyat An Nur 7.
Kemudian P Agus Sucipto Juga karena ahli musik maka siap ngajari Musik Islami dan Agung Zainun juga akan ngajar Qiroah, ngajar Sholawat dan Aqidatul Awam.
20883029_1427023824079227_7483376562714603116_n

Kyai Ainul Yaqin (Berkacamata) Sebagai Pengasuh Pesantren Rakyat An Nur 7 juga sudah menentukan beberapa arah gerak pesantren rakyat selanjutnya.

Mengenai santri yang akan semakin banyak semua yang hadir akan ikut serta mempublikasikan, sosialisasi, pemberdayaan, sekaligus mencarikan kebutuhan yang lainya.

Kebetulan Bapak Kepala Desa Muhammad Fauzi, S.E Juga akan siap mendukung. Bhabinkamtibmas P. Hari. S, Sekaligus Babinsa P. Wawan siap akan mengawal juga.

Dalam waktu singkat lusa InsyaAllah Papan Nama akan di pasang bersama-pengurus, pemerintah desa, Bhabinkamtibmas dan Babinsa, sehingga harapannya akan segera muncul semangat semangat untuk mengembangkan dakwah melalui Pesantren Rakyat.

Yang luar biasa Pesantren Rakyat A Nur 7 sudah memiliki Gutekan atau Kamar santri yg siap buat 100 santri, samping pesantren rakyat An Nur 7 juga dekat Masjid Besar Al Amin Dompol. abd. Alfatihah
20841765_1427023874079222_9177353968863523840_n

Share to Communicate

Malang Times:Di Pesantren Rakyat Ini, Tukang Batu Jadi Pemimpin Upacara Kemerdekaan RI

Di Pesantren Rakyat Ini, Tukang Batu Jadi Pemimpin Upacara Kemerdekaan RI
17-08-2017 – 13:12
Seluruh komponen masyarakat dari berbagai latar belakang semangat mengikuti upacara kemerdekaan
Seluruh komponen masyarakat dari berbagai latar belakang semangat mengikuti upacara kemerdekaan
MALANGTIMES- Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang ke-72 juga diperingati di Pesantren Rakyat Al Amien Sumberpucung Kabupaten Malang. Uniknya, kalau biasanya di pesantren menggunakan sarung dan peci hitam, tapi di Pesantren Rakyat ini malah tidak semua peserta upacara menggunakan aksesoris ala santri tersebut.

Seperti pengamatan MalangTIMES, peserta upacara yang ikut ternyata dari berbagai latar belakang. Ada yang petani, buruh pabrik, tokoh kejawen, fatayat, muslimat, pemuda karang taruna, pemabuk, pekerja seks komersial (PSK), guru TK dan SD, mahasiswa, bahkan untuk pemimpin upacaranya adalah tukang batu.

Mereka yang hadir merayakan kemerdekaan tidak menggunakan seragam khusus, tetapi sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Maka, tidak heran jika saat disambangi MalangTIMES di Pesantren Rakyat Sumberpucung Kamis (17/8/2017) pemimpin upacaranya hanya menggunakan celana pendek dan kaos biasa. Bahkan untuk inspektur upacaranya, Kiai Abdullah Sam yang juga menjabat sebagai pengasuh menggunakan pakaian adat sakera.

“Karena ini namanya pesantren rakyat, maka semuanya ya ala rakyat. Tidak ada batasan pekerjaan, tidak ada batasan umur, pokok masyarakat ya boleh ikut. Kita tidak memandang orang dari status sosial apapun,” terang Kiai Abdullah Sam kepada MalangTIMES.

Menurutnya, upacara ini adalah inisiatif dari masyarakat sendiri. Tidak heran, jika saat berangkat upacara tapi hampir sama dengan acara selametan desa karena masing-masing warga yang hadir membawa makanan sendiri untuk disantap bersama-sama.

“Ini juga salah satu memupuk rasa gotong royong masyarakat,” sambungnya.

Dalam amanatnya, Abdullah Sam atau yang biasa dikenal masyarakat sebagai Kiai Sableng ini menyampaikan kepada seluruh peserta upacara bahwa Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45 yang ia singkat dengan PBNU itu wajib dijaga oleh semua komponen masyarakat.

“Siapaun orangnya, darimana organisasinya, dan dari negara manapun yang berani mengambil secuil tanah air kita tercinta, maka wajib hukumnya kita membela sampai titik darah penghabisan,” ucapnya dengan penuh semangat.

Meskipun cuaca sangat panas, tetapi seluruh peserta tampak dengan khidmat mengikuti upacara hingga selesai.

Pewarta : Muhammad Faishol
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha

Share to Communicate