Pesantren Rakyat Al-Amin Mengembangkan Lele Wudlu

Dengan banyaknya santri yang wudlu setiap hari, dari pada air wudlu mubadir. maka pesantren rakyat memanfaatkan air wudlu tersebut untuk budidaya lele.
Dengan ukuran kolam 3×4 meter, kedalaman 70 cm, dalam 2,5 bulan bisa panen 1,5 kwintal. dengan rincian bibit 2000 ekor, habis pelet/ceki/makanan ikan lele selama 2,5 bulan 1,2 kwintal, bibit 2000 ekor 300 ribu.
Bibit lele yang di tanam jenis sangkuriang, membeli di daerah Maguan Ngajum. alhamdulillah jamaah dan santri baik yang di Sumberpucung atau di kecamatan lain, seperti di Kromengan dan Donomulyo Mas Nur Wachid desa Kalipakem juga ikut memanfaatkan air sisa rumah tangga untuk budidaya lele.
Selain itu Kolam ini juga bisa kita manfaatkan untuk menyirami tanaman-tanaman sayur di sekeliling rumah, seperti lombok, terong, bayam, kenikir, pepaya dan bunga2. airnya sangat baik untuk mengairi tanaman-tanaman tersebut, karena mengandung kotoran lele.
Selain itu untuk pembesaran lele untuk mengurangi pengeluaran modal, bisa di bantu dengan sisa2 sayur, daun pepaya, bayam, kulit semangka, kulit melon dll..yang penting jangan terlalu banyak,,kalau kebayakan amoniaknya meningkat, lele bisa mati.
Samping Pesantren Rakyat Ada yang sudah meniru, Pak JUpri dan Pak Achmad Yudianto yang sudah 2 kali menanam. semoga gerakan2gerakan dan contoh-contoh kecil ini dapat bermanfaat.(Santri Sableng)

Pesantren Rakyat Menginspirasi Rombongan STAIN Purwokerto

Setelah kunjungan ke Posdaya Masjid Barokatul Qur’an, rombongan OST STAIN Purwokerto kembali disuguhi model pemberdayaan ekonomi lokal berbasis posdaya pesantren rakyat. Sampai pada lokasi pesantren rakyat, para peserta disambut dengan tumpukan batako yang berjajar di depan lembaga pendidikan anak usia dini dan kantor pesantren rakyat. Bpk. Taramun atau akrab disapa cak mun menyampaikan bahwa ‘batako ini adalah produk baru pesantren rakyat, alhamdulillah respon dari pasar lumayan bagus. Hingga hari ini sudah ada pesanan sekitar kecamatan sumberpucung bahkan sudah pernah kirim ke wilayah Kota Malang Kecamatan Kedungkandang’ ungkap cak mun kepada timnews lp2m.

Abdullah Sam, S.Psi selaku pendiri Posdaya Pesantren rakyat al-amin menjelaskan bahwa semangat utama kami dalam memberdayakan masyarakat adalah ‘kami yang belajar, kami yang mengajar dan kami yang memberi gelar’. Dengan semangat itulah kami merintis berbagai program pemberdayaan baik dari aspek pendidikan dengan PAUD, Jagongmaton, belajar kitab kuning dan berbagai aktifitas lain. Selain itu disini juga ada pemberdayaan ekonomi dengan perputaran uang sekitar 1 milyar lebih dari berbagai sumber pendanaan yang bekerjasama dengan kami, termasuk yang ada dihadapan bapak ibu sekalian adalah produk jama’ah perak (julukan pesantren rakyat) ungkap ustdz yang akrab disapa cak dul tersebut.

Setelah prosesi makan siang, seluruh peserta OST diajak berkeliling melihat berbagai kegiatan dan produk unggulan posdaya pesantren rakyat al-amin diantaranya adalah lele gentong, jagong maton, kolam ikan organik, wisata alam kolam renang, produk kerajinan pande besi dan berbagai produk unggulan yang lain.

Pada sesi RTL, peserta kemudian dikumpukan di Mushola Al-Amin untuk proses evaluasi dan penyampaian kesan pesan serta penutupan. Dalam sesi tersebut ketua rombongan menyampaikan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada UIN Maliki Malang serta yayasan Damandiri yang telah memberikan kesempatan berharga bagi STAIN Purwokerto untuk belajar berbagai model pemberdayaan masyarakat ala Posdaya berbasis Masjid, kami berharap kami bisa lebih baik dari apa yang telah dilakukan Ibu Lis Sa’adah, Bpk. Nur Wahid ataupun Ust. Abdullah Sam yang telah dibimbing dengan orang yang luar biasa yakni Dr. Mufidah Ch, M.Ag.

Sebagai penutup, Dr. Hj. Mufidah Ch kembali mengingatkan bahwa apa yang kita lakukan dalam pemberdayaan masyarakat adalah mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Jadi kita harus memantapkan hati kita untuk selalu bersama masyarakat, belajar bersama mereka untuk memajukan agama dan bangsa Indonesia. Mewakili Damandiri, Ibu Mufidah juga mengucapkan “selamat berposdaya dan kami tunggu kabar-kabar heboh dari STAIN Purwokerto yang behubungan dengan program pemberdayaan masyarakat” ungkap Mufidah yang disambut tepuk tangan dari seluruh peserta. (sholehudin)

Posdaya Kec. Sumberpucung Bersiap Menjadi Percontohan Nasional Dengan Embrio Posdaya Pesantren Rakyat

21/09/2013–LPPM UIN Maliki Malang sangat serius dalam menjalankan program-program pemberdayaan masyarakat melalui posdaya, salah satu bentuk keseriusan tersebut adalah dengan mendirikan posdaya model se Kabupaten Malang di Kecamatan Sumberpucung.

Kegiatan yang di desain dengan konsep lokakarya ini dihadiri oleh seluruh podaya yang ada di Kecamatan Sumberpucung dengan berbagai potensi dan permasalahan yang terdapat pada masing-masing posdaya. Diantara permasalahan yang ada pada posdaya-posdaya tersebut adalah masih belum berjalanya program sesuai dengan target, belum solidnya komunikasi dan komitmen antar pengurus, belum memiliki program unggulan yang dapat dijadikan icon posdaya dan beberapa permasalahan lain. Namun dibalik permasalahan tersebut juga terdapat potensi-potensi dari posdaya masjid yang sudah terbentuk seperti adanya jama’ah rutin untuk pengajian, PAUD, TPQ, Madin, Usaha-usaha ekonomi rumah tangga, olahan produk pertanian dan kerjasama pendanaan diantaranya dengan El-Zawa serta Bank UMKM, beberapa kelompok posdaya ada yang sudah memiliki produk unggulan seperti abon puyuh, jamur tiram dan berbagai potensi ekonomi yang lain. Apalagi di Kec. Sumberpucung telah ada model Posdaya Pesantren Rakyat yang telah menginspirasi masjid lain untuk mengembangkan posdaya.

Sebagai upaya penguatan personal pengurus posdaya dalam melaksanakan program-program kemasyarakatan melalui masjid. LPPM UIN Maliki Malang juga menghadirkan KH. Marzuki Musytamar sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut dengan materi Hukum-hukum Memakmurkan Masjid. Dalam presentasinya Marzuki menyampaikan bahwa yang Allah telah menyandingkan status pengurus masjid itu dengan keimanan seseorang seperti dalam firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 18 “Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah. Makamudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk”. Ini adalah garansi sekaligus peringatan bagi kaum muslimin untuk selalu memakmurkan masjid sebagai bentuk tanggungjawab orang yang beriman.

Pertanyaanya yang muncul kemudian adalah, apakah boleh memakmurkan masjid dengan menggunakan uang kas masjid? menjawab pertanyaan tersebut Kyai Marzuqi menjelaskan bahwa hal tersebut boleh-boleh saja, kalaupun ada yang ragu ya mungkin makruh lah, ungkap Kyai sambil tersenyum kepada peserta. Agar kita bisa memanfaatkan uang kotak dimasjid untuk kesejahteraan masjid sesuai dengan peraturan fiqh, maka sebaiknya kotak amal masjid itu jangan diberi nama aneh-aneh, cukup dengan menggunakan kotak amal atau kotak kesejahteraan masjid saja. Dengan cara seperti itu, kita bisa dengan leluasa menggunakan dana amal tersebut, asal tujuanya untuk kesejahteraan masjid. Sebagai contoh para kyai dulu termasuk para wali songo itu selalu menyediakan makan di masjid bahkan gamelan saja juga dibawa kemasjid, tujuanya tidak lain adalah agar masyarakat senang ke masjid. setelah target itu tercapai baru hal-hal lain dilakukan mulai dari kegiatan ekonomi masyarakat, keagamaan dan lain sebagainya, ungkap Marzuki yang direspon antusias oleh seluruh peserta.

Dr. Hj. Mufidah selaku ketua LPPM UIN Maliki Malang menegaskan bahwa LPPM selalu mendorong pengurus posdaya untuk terus maju bersama masyarakat dalam mengembangkan berbagai potensi lokal yang ada. Nah Posdaya Sumberpucung ini adalah salah satu model percontohan yang nantinya akan dijadikan icon nasional dalam mengembangkan posdaya berbasis masjid. tujuan yang mulia ini tidak bisa hanya dilakukan oleh LPPM sendiri namun harus bersinergi dengan seluruh stakeholder yang ada dimasyarakat termasuk didalamnya DMI, Bank UMKM dan pengurus masjid serta pengurus posdaya. Semoga kedepanya posdaya semakin terlihat nyata dalam kiprahnya membangun masyarakat menjadi berdaya melalui masjid sebagai basis pergerakanya. (sholehudin)

STAIN Purwokerto Belajar di Posdaya Barokatul Qur’an Yang Telah Berjejaring Dengan Pesantren Rakyat Al-Amin

Rombongan STAIN Purwokerto akhirnya tiba di Kota Malang pada hari jumat 11/10/13 setelah menempuh 17 jam perjalanan darat. Sebagaimana telah diagendakan sebelumnya, kepada peserta OST (observasi studi tour) diberikan materi tentang konsep dan model pemberdayaan masyarakat melalui Posdaya Berbasis Masjid yang dilakukan oleh LP2M UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pada sesi forum, materi yang disampaikan langsung oleh ketua LP2M UIN Maliki Malang Dr. Hj. Mufidah Ch diikuti oleh seluruh peserta yang berjumlah 50 orang. Pada presentasi dan sharing ini, Mufidah menjelaskan berbagai konsep pemberdayaan masyarakat yang banyak dipergunakan oleh berbagai lembaga diantaranya PAR, PPMBR dan juga konsep pemberdayaan Posdaya berbasis masjid. forum yang dirancang dengan model diskusi bebas ini menjadikan diskusi tidak menjenuhkan dan seluruh peserta mendapatkan informasi yang utuh tentang posdaya berbasis m asjid yang di laksanakan oleh LP2M UIN Maliki Malang.

Sebagai tindak lanjut dari materi yang disampaikan, pada hari sabtu 12/10/13 peserta diajak melihat secara langsung model pemberdayaan masyarakat di kawasan Kec. Sumberpucung yang menjadi model posdaya berbasis masjid secara nasional. Posdaya masjid yang dikunjungi adalah posdaya masjid Barokatul Qur’an yang berada di dusun Pakel Desa Sumberpucung serta Posdaya PESANTREN RAKYAT juga berada di kawasan desa yang sama.

Berada di posdaya berbasis Masjid Barokatul Qur’an, kepada para peserta pengasuh pesantren Barokatul Qur’an Ibu Nyai Lis Sa’adah bercerita bahwa posdaya disini sesungguhnya baru berdiri sejak 3 bulan yang lalu. Bermodal dari informasi serta buku yang diberikan oleh Ust. Abdullah Sam kami belajar dan mensosialisasikan posdaya di masyarakat melalui jama’ah pengajian yang saya asuh, hasilnya luar biasa hingga hari ini sudah ada 8 kelompok wirausaha. Sebenarnya masih banyak yang mendaftarkan diri namun saya takut karena delapan saja ketika satu kelompok mendapatkan 20 juta maka sudah ada 160 juta, trus saya mau nempuhi dari mana kalo ada yang macet? Pungkas bu nyai Lis yang disambut tawa riuh ara peserta OST. Dalam penyampaianya, ketua Posdaya Barokatul Qur’an juga menjelaskan bahwa kepada setiap jama’ah yang ingin menjadi anggota posdaya maka diharuskan memiliki 3 kriteria yakni: wajib ngaji, jujur dan amanah itu saja.

Selain ibu nyai Lis Sa’adah, hadir juga Bp. Nurwahid ketua Posdaya Masjid Fatahillah Kec. Donomulyo yang dikenal dengan produk unggulan kampung jamur. Dalam paparanya, Nurwahid menceritakan bagaimana awal mula berdirinya posdaya fatahillah dengan kampung jamurn sebagai produk unggulan. Pada awalnya banyak pihak dan masyarakat memandang sebelah mata bahkan cenderung mencemooh inisiatif kami ini, saya dan isteri saya merasakan bagaimana ketika kami memungut sampah grajen (limbah sisa gergajian kayu: jawa). Namun semuanya saat ini sudah berbalik 180”, masyarakat sudah banyak berdatangan untuk bergabung dengan kampung jamur. Bahkan masyarakat non muslim sudah ada yang bergabung dengan kami, namun semua harus mengikuti sistem kerja kami.

Dr. Hj. Mufidah Ch sebagai ketua LP2M UIN Maliki Malang pada sesi berikutnya menyampaikan kepada peserta bahwa apa yang terjadi di Barokatul Qur’an dan Masjid Fatahillah ini adalah atas kerja keras dan kerja ikhlas semua pihak. Ada tiga hal penting yang harus dipegangi dalam proses pemberdayaan dan pengabdian masyarakat sebagaimana yang telah saya sampaikan yakni modal sosial, kearifan lokal dan yang tidak kalah penting adalah jejaring. Ketika tiga hal ini telah berjalan, maka kita tinggal melihat prestasi demi prestasi masyarakat dampingan tanpa harus selalu kita yang memberi ide dan masukan” pungkas Mufidah yang disambut teput tangan para peserta OST.

Sebagai tanggapan dan kesan kegiatan di Posdaya Barokatul Qur’an, ketua rombongan STAIN Purwokerto Drs. Muhamad Irsyad mengungkapkan bahwa ini adalah pemberdayaan yang luar biasa bagi kami, sebagai ketua rombongan sekaligus perwakilan kampus kami bertekad akan belajar lebih baik lagi daripada yang telah lalu. Satu hal lagi kami berpesan kepada Ibu Dr. Hj. Mufidah jangan bosen dan jenuh ketika nanti kami sering menghubungi ibu baik melalui telpon maupun email terkait informasi-informasi posdaya berbasis masjid ini, tutup Irsyad yang kemudian disambut aplaus dari para peserta OST. (Sholehudin)

13 PTAI Belajar OST Ke Pesantren Rakyat Al-Amin dan Siap Bermitra Dengan Posdaya Berbasis Masjid UIN Maliki Malang

Pada hari Rabu 29 Januari 2014, LP2M UIN Maliki Malang kedatangan tamu 13 Perguruan Tinggi Islam dari wilayah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kedatangan para perwakilan PTAI tersebut tidak lain adalah hendak belajar dan melihat secara langsung tentang proses perencanaan, pelaksanaan dan hasil-hasil Posdaya Berbasis Masjid di lingkungan UIN Maliki Malang yang saat ini telah menjadi percontohan nasional. Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Perencanaan Keuangan ini diikuti oleh sekitar 80 peserta yang terdiri dari dosen dan pengurus lembaga pengabdian maupun penelitian masing-masing.

Dr. H. Sugeng Listyo Prabowo, M.Pd yang mewakili Rektor UIN Maliki Malang pada sambutanya pria yang akrab disapa Pak. Sugeng ini menjelaskan bahwa Prof. Haryono Suyono sudah seperti warga UIN Malang beliau telah berulang kali mengunjungi UIN Maliki Malang dalam proses memperkuat kerjasama dalam mengimplementasikan program posdaya bebasis masjid yang pada tahun ini telah memasuki tahun ke-4. Saya sebelum menjabat sebagai WR ini dahulu juga sebagai DPL Posdaya dimana saya adalah spesialis untuk lokasi yang jauh (ungkap Sugeng yang disambut tawa dan tepuk tangan riuh peserta), kesan saya bahwa posdaya berbasis masjid ini merupakan sebuah pola yang efektif dalam memberdayakan masyarakat termasuk didalamnya mengajarkan kepada mahasiswa dan dosen tentang realitas sosial yang ada di masyarakat.

Pada sesi selanjutnya, Prof. Haryono Suyono yang memberikan sambutan menjelaskan secara detil kenapa posdaya perlu dilaksanakan dalam proses pembangunan masyarakat sekarang ini. Dasar hukum posdaya adalah instruksi presiden no 3 tahun 2010, melalui inpres tersebut Presiden SBY menginstruksikan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, dan sejumlah pejabat terkait termasuk gubernur dan bupati/walikota. Instruksi tersebut ditujukan dengan maksud agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing, dalam rangka pelaksanaan program-program pembangunan yang berkeadilan yang meliputi program pro rakyat, keadilan untuk semua (justice for all), pencapaian tujuan Pembangunan Milenium (Millennium DevelopmentGoals – MDG’s) sampai tahun 2015. Lebih jauh Ketua Umum Yayasan Damandiri ii juga menjelaskan awal munculnya posdaya berbasis masjid yang dilaksanakan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang adalah pada tahun 2009 yang diawali dengan undangan kepada Yayasan Damandiri sebagai narasumber.

Berawal dari situ kemudian posdaya berbasis masjid mulai dikembangkan dan disistematiskan oleh UIN Maliki Malang yang digawangi oleh ketua LPM ibu Dr. Hj. Mufidah Ch. Hingga pada hari ini UIN Maliki Malang telah menjadi percontohan nasional untuk pengembangan posdaya berbasis masjid dengan di ketuai oleh Dr. Hj. Mufidah. Jadi posdaya berbasis masjid itu adalah Milik UIN Maliki Malang dan saya merasa bangga sekali masih dianggap sebagai bagian dari keluarga kampus ini. Hari kedua pelaksanaan workshop dan OST posdaya berbasis masjid ini para peserta diajak untuk melihat secara langsung proses pemberdayaan masyarakat melalui masjid yang telah dilakukan di Kecamatan Sumberpucung. Datang di Posdaya Pesantren Rakyat Kecamatan Sumberpucung yang merupakan cikal bakal posdaya berbasis masjid. Para peserta disuguhi dengan alam pedesaan yang asri dan diiringi oleh grup kesenian Jagong Maton dengan lagu-lagu gending Jawa.

Selanjutnya para peserta di ajak berkeliling ke beberapa situs pemberdayaan yang telah dilakukan melalui program posdaya berbasis pesantren rakyat, diantaranya program bedah rumah, tower hijau, penanaman pepaya, polybag keluarga, lele gentong serta beberapa program lainya. Ada moment spesial ketika para peserta mendatangi lokasi kolam, para peserta dari peguruan tinggi tersebut diajak untuk menebarkan benih ikan lele di aliran sungai warga.

Tujuan dari kegiatan ini adalah upaya revitalisasi sungai dalam memberikan manfaat kepada masyarakat, seperti keberadaan sungai tersebut yang dahulu sebagai tempat warga desa mengambil air serta memelihara dan mengambil ikan. Posdaya pesantren rakyat bersama posdaya berbasis masjid di Sumberpucung juga telah meng-golkan peraturan desa yang melarang kepada seluruh warga desa untuk membuang sampah ke sungai. Ust. Abdullah Sam, S.Psi sebagai ketua sekaligus pembina posdaya pesantren rakyat menyampaikan bahwa kunci keberhasilan program yang ada di wilayah ini adalah semangat srawung (berbaur dengan masyarakat). Konsep srawung itulah yang harus kita lakukan dalam memberdayakan masyarakat, jadi jangan ada lagi dikotomi masyarakat miskin, mampu, bodoh, terdidik dan sebagainya. Semua yang ada dalam posdaya berbasis masjid harus bergerak bersama untuk menjalankan semua program yang telah disepakati forum.

Turut hadir dalam event ini ketua Posdaya Masjid Fatahillah yang lebih akrab dienal dengan Kampung Jamur serta ketua Posdaya Masjid Al-Mubarokah dengan produk pengembangan pendidikan melalui PAUD. Dalam paparanya, Nur Wahid sebagai ketua posdaya Fatahillah menjelaskan secara panjang lebar bagaimana proses pembentukan serta perkembangan posdaya berbasis masjid yang ada di Kecamatan Donomulyo termasuk di dalamnya keragaman keyakinan keagamaan yang terdapat di Donomulyo merupakan karakter khusus di Donomulyo. Sedang dari Posdaya Masjid Al-Mubarokah Kota Malang karakter perkotaan menjadikan pendidikan merupakan alternatif utama dalam mengembangkan posdaya berbasis masjid, jadi fokus dampingan posdaya kami adalah bidang pendidikan meskipun pada beberapa bidang lain sudah mulai disentuh seperti wirausaha handycraft serta permodalan beberapa usaha kecil warga sekitar masjid. Sebagai follow up kegiatan kunjungan yang telah dilaksanakan, pada malam harinya kepada para peserta diberikan waktu untuk sharing berbagai pandangan dan kesan terhadap lokasi yang telah dikunjungi.

Kegiatan ini kemudian diperkuat dengan testimoni dosen pendamping lapangan yang diwakili oleh Jamilah, MA. Pada paparannya, Jamilah menjelaskan bahwa fungsi DPL dalam kegiatan KKM tematik posdaya berbasis masjid ini sangat penting terutama ketika mahasiswa masih kaget dan minder dengan kultur yang mereka hadapi dilapangan. Jadi tidak hanya sebagai DPL saja, terkadang dosen juga sebagai fasilitator, negosiator, tutor dan ressource linker seperti tugas utama para pengabdi yang tergabung dalam posdaya berbasis masjid ini. Sebagai penguatan dari seluruh sesi yang telah dilalui, pada hari ketiga kepada seluruh peserta workshop dan OST diberikan berbagai tool dalam implementasi KKN Tematik Posdaya Berbasis Masjid.

Materi-materi yang diberikan diantaranya tentang bagaimana melakukan pembekalan bagi dosen dan mahasiswa yang melingkupi konsep PAR, PPMBR dan Posdaya Masjid, Teknik Fasilitasi, konflik dan resolusi, serta bagaimana menggunakan analisis sosial pada tahap penyusunan LFA (logical framework actifity). Respon peserta sangat positif terlihat dari antusiasme mereka dalam mengikuti semua sesi hingga selesai. Pada penutupan Dr. Hj. Mufidah Ch menekankan bahwa “apa yang bapak ibu lihat disini, adalah sebuah sumber inspirasi. Bapak ibu sekalian bisa mengembangkan dan memodifikasi untuk lebih maju dan lebih baik dari yang saya lakukan di UIN Maliki Malang”. (sholehudin)