PRESIDEN MAHASISWA UNISMA (Universitas Islam Malang) MENGAJAK KABINETNYA BELAJAR MERAKYAT DI PESANTREN RAKYAT

18451640_1331104937004450_6165932219247200433_o
18491484_1331418003639810_7912306163045000750_o

Darmawandi mahasiswa Fakultas Hukum UNISMA asal Banten bersama 7 teman-temanya yang sekaligus duduk di kabinet Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas, berkunjung ke Pesantren Rakyat Al Amin yang berada di Desa Sumberpucung Kabupaten Malang.
Niat awal ke Pesantren Rakyat adalah karena setiap pergi ke warung Kopi di mana saja selalu mendengar tentang Pesantren Rakyat dan sekaligus sosok pendirinya yang sekaligus pendiri Koran Inspirasi Pendidikan yaitu Abdullah Sam (Kyai Sableng/ Rakyat) dari cerita ke cerita yang telah mengepung warung ke warung itu terus mengelitik banyak mahasiswa, kemudian terinspirasi dan langsung meluncur silaturahim nemui Pendiri Pesantren Rakyat langsung.
Di dalam diskusi yang nglantur ke sana kemari teman-teman banyak yang mengarah bagaimana membangkitkan ekonomi kerakyatan, strategi pembaerdayaan dan bagaimana implementasinya.
Ikut dalam diskusi ini di antaranya adalah Syamsul Arifin jurusan Ilmu Hukum, Muhammad Muhaimin asal Kasin Kota Malang, Erha dari Sampang Madura, Sena dari Gresik, Andreansyah Ahmad dari Lombok Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan Ahmad Lutfi Munir Ketua Komisariat PMII Ibnu Sina Kabupaten Malang.
Di dalam diskusi ini Kang Dullah Panggilan akrab Kyai Sableng Abdullah Sam mengutarakan secuil-secuil tokoh-tokoh seperti Antonio Gramsci, Abdurrahman Addiba’I mendunia gara-gara nulis sholawat Diba’, jokowi jadi presiden melalui jadi tokoh lokal, perlawanan Pak Marhaen terhadap Belanda. Beliu bercerita bahwa tempat yang sederhana ini telah dikunjungi hampir 1000 kali dari berbagai tokoh intelektual, Gus, Kyai, Doktor Profesor, dan sebagainya.
Harapanya dalam pertemuan ini Kyai Sableng di harapakan dapat mengisi dan mengispirasi di kalangan mahasiswa yang ada di UNISMA, dengan tema “Bagaimana Nasib NKRI Tanpa Bintang Sembilan”. Di dalam diskusi ini Ust. Abdullah Sam menawarkan kepada tamu yang datang agar untuk merawat satu mushola, satu masjid, satu TPQ, Madin yang jumlahnya satu juta lebih, maka negara kita akan terjaga dengan baik, namun jangan hanya di ajari ngaji tetapi juga di berdayakan secara intelektualitas dan ekonomi, bayangkan di Indonesia ini ada 82.000 desa, jika masjidnya ada 1 juta dan di berdayakan, maka selesai dan makmurlah Indonesia.