KYAI SABLENG PESANTREN RAKYAT: KUASAI INFORMASI, GENGGAM DUNIA

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Teknologi tidak lagi sesuatu yang jauh di sana, tetapi derap langkah kita setiap saat sudah wajib bersinggungan dengan teknologi, paling tidak produk-produk dari hasil teknologi.
Untuk itu Pengasuh Pesantren Rakyat Al Amin Sumberpucung Kabupaten Malang selalu mewanti-wanti kepada semua santri dan jamaah nya agar melek teknologi. Terutama Teknologi Informasi, karena ada kalimat dari orang bijak ” siapa yang menguasai informasi dia yang akan menggenggam dunia”.
Cak Dul Atu Ust. Adullah Sam atau Gus Aab panggilan akrab di RMI, sudah y tahun mengelola website sendiri, di bantu adiknya Chandra, ilmu pengelolaan website ini di dapat dari teman kuliahnya Bambang Riadi asal Trenggalek, sekarang berdomisili di Desa Sambiresik Kediri. Bambang Riadi ini yang membuatkan websitenya pesantren rakyat yaitu www.pesantrenrakyat.com, pesantren rakyat bisa vital, gerakanya bisa ke mana-mana, di kunjungi dari berbagai kampus, pesantre-pesantren besar, pemerintah salah satunya adalah karena website, di samping karena LPPM UIN MALIKI Malang menjadi rekanan dalam hal pemberdayaan yaitu melalui Posdaya Masjid yang di Ketuai Oleh Dr. Hj. Mufidah Ch.
Kamis Malam Jum’at 16 Februari 2017 Kyai Sableng Abdullah Sam,panggilan panggung Gus Aab, melakukan ngaji nglurug ke Kediaman mantan pengelola NU Online yaitu Bambang Riadi yang sekaligus donatur IT pesantren rakyat.
Di sana disambut hangat, minum kopi, jajanan, buah-buahan di suguhkan, pukul 23.00 baru nyampe karena sempat di perjalanan di sasarkan oleh Mbah Google. Bicara panjang lebar tentang pesantren, pemberdayaan, sampai membahas inti dari kunjungan ke Kediri di antaranya adalah membahas website. Permintaan dari Kyai Sableng terhadap Bambang Riadi agar webnya di per bagus tampilanya, termasuk mengampaikan tentang permintaan dari Pengurus RMI NU Kabupaten Malang agar di bantu juga masalah perbaikan wesbsite RMI.
Karena sebelum berangkat sudah membuat status di FB, maka datanglah teman- teman lama ke tempat Bambang juga, di antaranya Sahabat Firdaus, Sahabat, Firdaus Tahu, Lutfi Munir, Endar dan Sahabat Cung Kholidi asal Probolinggo yang baru selesai menyelesaikan Tesisnya tentang Pesantren Rakyat.
Setelah larut malam semua di ajak ke Kota Kediri untuk makan malam di Pecel Jalan Doho. Sambil makan pecel tumpang melanjutkan diskusi dan menghasilkan beberapa poin, di antaranya adalah membahas rubrik website pasantren rakyat dan website RMI NU kab Malang, kemudian bersepakat akan mengkoordinasikan antar pesantren rakyat yang ada di Nganjuk dan Kediri yang di pegang oleh Cung Kholidi dan Bambang Riadi, membuat Donatur Receh untuk Kebutuhan Pesantren Rakyat, dan akan di adakan Bedah Tesis Tentang Pesantren Rakyat di Sumberpucung oleh Cung Kholidi. Inilah hasil Ngaji Nglurug malam itu. Semoga manfaat Alfatihah

PESANTREN RAKYAT MENGEMBANGAKAN ISLAM YANG MERANGKUL, BUKAN YANG MEMUKUL

Jpeg

Jpeg

Setiap pemikiran memiliki pengaruh dalam tindakan, Pesantren Rakyat, Pesantren yang aktivitas dan kurikulumnya ala rakyat.
Sesuai dengan definisinya pesantren rakyat setiap Malam Minggu, selain menginspirasi di setiap Mushola dan Masjid untuk mendirikan pesantren malam minggu, juga menghidupkan Karang Taruna, IPNU/ IPPNU setiap ranting dan PAC yang mati.
Melalaui kegiatan MAKESTA ( Masa Kesetiaan Anggota) yang di adakan PAC IPNU/IPPNU Sumberpucung, dimana hampir 80% adalah santri-santri Pesantren Rakyat dari Desa Karangkates, Sumberpucung, Jatiguwi, Sambigede, Senggreng, Teenyang dan ada juga peserta yang datang dari kecamatan luar Sumberpucung, seperti kalipare, Kepanjen, Turen, Ngajum.
Inilah pesantren rakyat, tidak boleh sekedar memikirkan interen pesantrennya, tetapi juga memiliki kwajiban mengidupkan aktifitas-aktifitas pemuda di mana-mana. Itulah pesantren rakyat yang di gagas oleh Cak Dullah (Ust. Abdullah Sam).
Setiap kegiatan yang dilaksanakan dengan cara moving, keliling ke Desa satu ke Desa yang lain, dari Masjid, Mushola, TPQ, Madin, Pesantren yang satu ke yang lain. Dengan harapan terjadi Dakwah Islamiyah di mana-mana tempat.
Kegiatan ini di hadiri, MWC NU, Ketua PAC ANSOR, Ketua LP Maarif, Banser dan Dari Pihak Kepolisian Sumberpucung.
Dari 100 peserta setiap Makesta, harapanya bisa muncul beberapa kader Islam ASWAJA, Islam yang menjaga NKRI, Islam Yang Ramah, Islam Yang Merangkul bukan Memukul, Islam Yang Mencintai bukan Islam yang membenci.
Kegiatan MAKESTA sabtu-Minggu ini dilaksanakan di Madrasah Diniyah Hasanuddin Desa Ternyang. Dan dukungan dari tokoh-tokoh masyarakat setemoat luar biasa, sampai jam 02.00 malam masyarakat setempat masih ikut menunggu sambil ngoblor-ngobril ringan ala Jagong Maton Pesantren Rakyat…Alfatihah

Alfatihah

Jpeg

Jpeg

Terobosan Alternatif untuk Pemberdayaan Umat

terobosanHari Minggu lalu, di pagi yang masih gelap aku sudah pergi ke lokasi bina desa di wilayah Sumber Pucung, Malang, sebuah kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Blitar. Aku sebenarnya ragu untuk datang ke tempat itu. Bagiku, membantu masyarakat apalagi terkenal miskin sama saja dengan membuang uang dengan percuma. Berkali-kali aku gagal dan kecewa dalam program pemberdayaan masyarakat yang ternyata dipenuhi dengan kebohongan. Aku pernah menitipkan puluhan ekor kambing tetapi ternyata para kambing itu raib tak berjejak. Begitu pula dengan modal usaha, dana bergulir milik umat yang ernah dipercayakan padaku habis digunakan untuk makan keseharian. Ah, rasanya aku tak percaya lagi dengan sikap memelas dan janji-janji kosong orang-orang tak mampu di setiap pencairan bantuan pinjaman tanpa bunga.

Tetapi, apa yang kulihat hari ini memunculkan harapan baru bagiku. Aku berharap apa yang kusaksikan langsung dari pagi hingga petang di kampung yang bersebelahan dengan sungai brantas itu benar-benar potret nyata warga yang punya semangat untuk maju. Dalam acara launching program pembibitan ternak dan tanaman organik, aku menemukan kesan bahwa seluruh komponen desa hingga kecamatan turut hadir dalam acara tersebut. Begitu pula antusias masyarakat untuk berbagi dan bergotong royong membangun desa begitu kentara. Bahkan, aku sempat terbelalak tatkala aku menyaksikan beberapa orang yang sebenarnya “kaya” namun cukup bangga hidup dalam rumah sederhananya berkenan mewakafkan satu hektar tanahnya untuk proyek pemberdayaan masyarakat di kampungnya. Mana mungkin bisa?

Setelah aku amati, ternyata sistem pemberdayaan di Sumber Pucung itu cukup unik. Beberapa pakar dan tokoh masyarakat berpadu dalam tim penggerak pembangunan. Sebagai contoh, ketika desa itu akan memprogramkan pemeliharaan kambing, para calon penggarap dikumpulkan terlebih dahulu dan diberi orientasi mental. Harapannya, kambing yang akan diserahkan akan dipelihara dengan baik dan tepat sasaran. Alhasil, hari ini ketika kambing-kambing itu diberikan, para pemelihara kambing yang ditunjukkan telah menyediakan kandang beserta pakannya dengan baik. Dari sini, aku mulai punya harapan bahwa masih ada sekelompok orang yang memang benar-benar ingin menjadi manusia yang jujur dan layak dipercaya.

Satu elemen yang tak ketinggalan dalam kesuksesan program ini adalah berdirinya sebuah pesantren berbasis masyarakat yang disebut dengan “Pesantren Rakyat”. Pesantren ini tidak mempunyai lokasi pondok seperti layaknya pesantren modern. Pesantren Rakyat ini diterjemahkan dengan kumpulan anggota masyarakat yang peduli terhadap pengembangan desanya dari beragam ilmu yang dimiliki. Sejumlah “ustad” bukanlah para kiyai yang pandai mengaji kitab kuning, namun merupakan tokoh-tokoh pemuda dengan beragam keahlian yang siap membantu masyarakat sesuai dengan bidang kelimuannya. Misalnya, ada “ustad” yang ahli di bidang budidaya ikan, maka anggota masyarakat muda yang menjadi “santri” harus mau “mengaji” kepada ustad tersebut. Begitu pula bila ada santri yang ingin mendalami pengetahuan tentang pembuatan tape ubi, mereka bisa mendatangi “kiyai” yang dipilih sebagai teladan pembuatan tape. Begitulah seterusnya sehingga seluruh elemen masyarakat dapat bekerja sama membagun desa demi terciptanya lingkungan yang sehat, maju, sejahtera lahir dan batin.

Nah, dari pengalaman hari ini, saya berkesimpulan, jika membantu masyarakat secara total, nampaknya perlu perencanaan yang matang dan kerjasama yang erat dengan berbagai pihak sehingga hasilnya nanti dapat dicapai secara memuaskan. Apabila tidak, bantuan keuangan sebesar apapun akan sirna begitu saja sesaat setelah para pemberi bantuan itu pergi. Ini malah menjadi sarana pelanggengan kemiskinan. Sayang sekali, bukan?

Sumber: http://blog.uin-malang.ac.id/sudirmanhasan/2011/02/22/pesantren-rakyat-terobosan-alternatif-untuk-pemberdayaan-umat/

Unek-Unek Rakyat

kegiatan perakAgama milik umat, bukan milik perseorangan atau milik organisasi tertentu. Begitu juga kebenaran, kebenaran milik Allah, Bukan milik perseorangan atau organisasi tertentu.

Sedangkan yang terjadi sekarang agama apapun semacam di privatisasi oleh orang tertentu atau organisasi tertentu, atau kebenaran bukan lagi milik Allah, akan tetapi sudah di privatisasi oleh orang tertentu dan golongan tertentu yang intinya untuk kepentingan Individu dan Kelompok. Apakah itu yang dinamakan Agama?

Sekilas Tentang Pesantren Rakyat

pesantren rakyat

pesantren rakyat

Di sebuah Desa yang berada di barat ibu kota Kabupaten Malang, tepatnya Desa Sumberpucung namanya, di situ masyarakatnya plural atau heterogen baik agamanya, pekerjaannya, budayanya dan kebiasaanya. Dalam Pengembangan Strategi Dakwah Islamiyah pada suatu hari ada anak rakyat “Cak Dul ” yang berfikir “bagaimana Dakwah Akhlaq Dan Aqidah Islamiyah ala Ahlussunnah Wal Jama’ah ini bisa Menembus Kalangan Yang Paling Hitam, Terpinggirkan, Ekonomi Lemah Dan Pendidikan Rendah” Yang Justru Sering Terlupakan.

Selama ini kita tahu pendidikan baik Formal atau Pesantren di rasa menakutkan karena beberapa syarat dan biaya yang cuckup rumit dan tinggi untuk kalangan orang awam, katakanlah dengan mahalnya biaya (kemungkinannya kecil anaknya orang tidak punya bisa mengenyam pendidikan mahal) sehingga potensi-potensi jiwa agamawan dan negarawan yang ada pada anak rakyat kecil tidak tersentuh dan tidak akan pernah ada perkembangan.

Padahal banyak mutiara-mutiara, Emas Permata Besar Yang Terpendam Di Kelurga-Kelurga Lemah yang selama ini Mengalami Jalan Buntu Dalam Menembus Ruang Kehidupan Yang Lebih Bermatabat, Ini Tugas Siapa?. Maka dari itu setelah mengalami beberapa uji coba pendekatan dan ulak-alik metode sejak Bulan Juli 1998, kemudian muncullah ide pendirian Pesantren Rakyat yang semua aktifitasnya ala rakyat yang kemudian kita bubuhi dengan nilai-nilai Ke-Islaman, Ke-Indonesiaan dan Kemanusiaan, maka Pada hari Rabu, 25 Juni 2008 berdirilah ide pendirian Pesantren Rakayat. Continue reading