Halaqoh Kyai-Nyai 2017, Pusat Studi Pesantren Mengundang Penggagas Pesantren Rakyat

IMG_20171205_141053
*SIARAN PERS*

*Para Kiai dan Nyai Kumpul di Bogor, Bahas Persoalan Bangsa*

*Bogor (5 Desember 2017)* — Peran penting pesantren dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa, termasuk radikalisme agama mencoba diperkuat oleh Pusat Studi Pesantren (PSP) melalui kegiatan Halaqah Kiai dan Nyai, Senin-Rabu (4-6/12/2017) di Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan kali kedua bertema _Jihad Pesantren Berbasis Literasi: ikhtiar Menangkal Radikalisme Beragama_ ini diikuti oleh sekitar 50 kiai dan nyai pimpinan dan pengasuh pondok pesantren dari berbagai daerah.

Direktur Pusat Studi Pesantren Achmad Ubaidillah mengatakan, ikhtiar yang dilakukannya ini merupakan usaha menjalin jaringan dan konsolidasi lintas pesantren untuk mewujudkan tujuan bersama dalam meningkatkan literasi pesantren sebagai upaya menangkal radikalisme agama.

“Tantangan pesantren di era teknologi tidaklah mudah mengingat propaganda radikal saat ini memanfaatkan berbagai ruang media digital,” ujar Ubaidillah yang saat ini mengelola Pesantren Al-Falak Pagentongan, Loji, Kota Bogor.

Upaya literasi pesantren, sambungnya, sudah dilakukan oleh Pusat Studi Pesantren ke berbagai daerah. PSP sudah keliling ke delapan provinsi untuk meningkatkan penguatan literasi pesantren di era digital.

“Saat in kami sudah memiliki sekitar 600 kader,” jelasnya.

Ubaidillah menilai, halaqah para kiai dan nyai ini penting sebagai wujud meneruskan perjuangan para ulama pendahulu. Menurutnya, dahulu para ulama tidak berhenti memperkuat konsolidasi dalam menghadapi sekaligus mencari solusi atas problem bangsa dan negara.

“Perjumpaan para ulama pesantren seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, KH Hasyim Asy’ari adalah usaha memperkuat perjuangan,” ungkapnya.

Dalam meniti perjuangannya saat ini, Ubaidillah mengaku terinspirasi dari kakek buyutnya, KH Tubagus Muhammad Falak, ulama kharismatik kelahiran Pandeglang dan pendiri NU di Bogor.

“Halaqah ini merupakan upaya rekontekstualisasi perjumpaan para kiai,” terangnya.

Menurut Ubaidillah, pimpinan elit agama, termasuk kiai sebagai pengasuh, dai, pimpinan organisasi sosial keagamaan, maupun pimpinan politik yang berbasis agama, memegang kunci penting ke mana layar akan berkembang dan ke mana biduk agama akan dibawa.

“Ke arah konsensus dan kompromi yang mengarah ke kesejukan dan perdamaian, atau ke arah pertentangan, _mutual distrust_, konflik, dan kekerasan,” tandasnya.

Dalam halaqah ini, PSP membahas lima materi penting. _Pertama_, Seluk Beluk Terorisme: The Untold Story yang dibawakan oleh Ustadz Sofyan Tsauri. _Kedua_, Pemaknaan Ayat-Ayat Jihad dalam Konteks Keindonesiaan dan Kemanusiaan yang diisi oleh KH Ahmad Ishomuddin.

_Ketiga_, Jihad Pesantren Berbasis Literasi yang disampaikan Nyai Fadhilah Khunaini. _Keempat_, Membendung Arus Ekstremisme di Indonesia. _Kelima_, Integrasi Pesantren dan Masyarakat: Khittah Berdirinya Pesantren yang dibawakan oleh Kiai Abdullah Syam. (*)

Kontak Direktur PSP, Achmad Ubaidillah: 081283014771IMG_20171118_110746

Share to Communicate

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*