Malang Times:Di Pesantren Rakyat Ini, Tukang Batu Jadi Pemimpin Upacara Kemerdekaan RI

Di Pesantren Rakyat Ini, Tukang Batu Jadi Pemimpin Upacara Kemerdekaan RI
17-08-2017 – 13:12
Seluruh komponen masyarakat dari berbagai latar belakang semangat mengikuti upacara kemerdekaan
Seluruh komponen masyarakat dari berbagai latar belakang semangat mengikuti upacara kemerdekaan
MALANGTIMES- Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang ke-72 juga diperingati di Pesantren Rakyat Al Amien Sumberpucung Kabupaten Malang. Uniknya, kalau biasanya di pesantren menggunakan sarung dan peci hitam, tapi di Pesantren Rakyat ini malah tidak semua peserta upacara menggunakan aksesoris ala santri tersebut.

Seperti pengamatan MalangTIMES, peserta upacara yang ikut ternyata dari berbagai latar belakang. Ada yang petani, buruh pabrik, tokoh kejawen, fatayat, muslimat, pemuda karang taruna, pemabuk, pekerja seks komersial (PSK), guru TK dan SD, mahasiswa, bahkan untuk pemimpin upacaranya adalah tukang batu.

Mereka yang hadir merayakan kemerdekaan tidak menggunakan seragam khusus, tetapi sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Maka, tidak heran jika saat disambangi MalangTIMES di Pesantren Rakyat Sumberpucung Kamis (17/8/2017) pemimpin upacaranya hanya menggunakan celana pendek dan kaos biasa. Bahkan untuk inspektur upacaranya, Kiai Abdullah Sam yang juga menjabat sebagai pengasuh menggunakan pakaian adat sakera.

“Karena ini namanya pesantren rakyat, maka semuanya ya ala rakyat. Tidak ada batasan pekerjaan, tidak ada batasan umur, pokok masyarakat ya boleh ikut. Kita tidak memandang orang dari status sosial apapun,” terang Kiai Abdullah Sam kepada MalangTIMES.

Menurutnya, upacara ini adalah inisiatif dari masyarakat sendiri. Tidak heran, jika saat berangkat upacara tapi hampir sama dengan acara selametan desa karena masing-masing warga yang hadir membawa makanan sendiri untuk disantap bersama-sama.

“Ini juga salah satu memupuk rasa gotong royong masyarakat,” sambungnya.

Dalam amanatnya, Abdullah Sam atau yang biasa dikenal masyarakat sebagai Kiai Sableng ini menyampaikan kepada seluruh peserta upacara bahwa Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45 yang ia singkat dengan PBNU itu wajib dijaga oleh semua komponen masyarakat.

“Siapaun orangnya, darimana organisasinya, dan dari negara manapun yang berani mengambil secuil tanah air kita tercinta, maka wajib hukumnya kita membela sampai titik darah penghabisan,” ucapnya dengan penuh semangat.

Meskipun cuaca sangat panas, tetapi seluruh peserta tampak dengan khidmat mengikuti upacara hingga selesai.

Pewarta : Muhammad Faishol
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha

Share to Communicate

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*